[Puisi] Menepi di Pantai



Kami pernah singgah di pantai belakang masjid, dengan pasir putih dan kerang-kerang yang masih hidup. Usiaku sepuluh waktu itu, atau kurang, dan aku menginginkan yang lebih dari sekadar pasar ikan.

Aku ingin sekali bicara pada ikan-ikan selain yang ada di aquarium rumah kami. Jadi, setelah mencari yang besar-besar dan segar-segar untuk dibakar, katanya, kita akan membakar kulit kita juga di bawah terik matahari, di atas butir-butir pasir, atau menenggelamkan diri kita seutuhnya pada selimut laut. Dan, pantai bagiku selalu sama seperti dulu.

Asinnya tak seberapa dibanding pahit yang tersisa pada dinding tenggorokanku. Airnya selalu buat mataku panas, merah, dan berdarah. Persis seperti saat aku menangis karena istana pasirku dihancurkan anak kecil lain, persis seperti saat aku harus beranjak dari bibir pantai untuk pulang ke Jakarta.

Seharusnya, siang itu kami tak usah singgah. Biar jejak-jejak kami tak tertinggal di atas pasir. Sebab setelahnya, aku tak pernah benar-benar pergi dari tempat yang selalu memanggil-manggil namaku itu. Pantai jadi seperti hantu yang menggangguku melulu, dan aku mengasihani diriku karenanya, dan aku jadi merutukimu selamanya.

Pantai bagiku adalah bekas kepergianmu.[]

=================================

Karya: Elva Mustika Rini
Blog: https://monologmegabintang.wordpress.com
Instagram: @elvocado
TAG